Minggu, 25 Desember 2016

Jangan Terlalu Sempit Memaknai Revolusi

Bahasan Revolusi Risalah Desember 2016. Mengapa terlalu sempit dalam membahas revolusi. Hanya berlandaskan kamus bahasa indonesia.

Saya penggemar santri karena bukan santri. Selalu di bahas lugotan dan istilahan. Tapi di sini terlewat tidak ada. Kalau bisa merujuk bahasa asli.

Karena saya bukan santri lewat lagi :D , cara cepat buka wikipedia.
"Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat".
Saya setuju dengan arti di atas. Dan baru baru ini kita juga di perkenalkan dengan "Revolusi Mental" yang membuat perubahan perilaku mental jadi terbelakang.

Pengartian atau penjurusan Revolusi sebagai makar atau penggunaan kekerasan untuk merebut kekuasaan adalah sangat tidak benar. Revolusi Industri di Inggris adalah bukti lain bahwa Revolusi tidak melulu soal mengangkat senjata.

Ini malah seperti paranoid baru yang di ciptakan setelah paranoid yang lama barat ciptakan untuk islam bahwa Jihad adalah mengangkat senjata.

Selanjutnya bahasan mengangkat senjata terhadap pemerintah pun tidak sepenuhnya saya yakini salah. Hadist yg di bawakan adalah perlawanan terhadap pemerintah islam, bukan pemerintahan dengan perundangan. Di dalam pemerintahan yang berdasarkan undang undang. Menggulingkan pemerintahan yang sah bisa melewati beberapa cara. Salah satu cara dengan pengambilan suara di DPR dan bahkan bisa mengangkat senjata untuk membela undang undang tersebut.

Undang undang adalah sebuah perjanjian yang di buat rakyat dan sdisetujui rakyat melalui wakil rakyat. Jika pemerintah sendiri menyalahi undang undang wajib di ingatkan sampai di gulingkan demi undang undang.

Bukan kah Rosulullah pun melakukan beberapa perjanjian yang bila di salahi maka akan mengangkat senjata untuk menegakannya.

Demikian uneg uneg yg takut jadi jerawat. Di usia saya kini jerawat bisa jadi problem tuduhan beger mindo. :v demikian di tulis panjang dan agar tidak hilang maka di buat di blog.

Sabtu, 10 Desember 2016

Dari Blokir jadi Benci

Kalau tidak di goreng tentu tidak akan renyah, begitu lah juga sebuah berita, pewarta mungkin ingin berita sampai pada pemirsa, tapi pengusaha ingin berita jadi uang.

Boikot sari roti ternyata menjadi berita baru, berita yg lebih renyah jika di tambah bumbu dan di goreng lagi.

Berita yang harusnya boikot produk sari roti jadi kebencian terhadap sari roti. Supaya timbul berbagai perasan yang kembali menyalahkan muslim.

Logika harus masuk dan di pakai. Ketika aksi damai III saja tidak ada tempat yg rusak, rumput terinjak, lalu kenapa harus menginjak dan membuang sari roti ?

Tidak masuk akal, bukan ? Lalu darimana gambar tersebut di dapat, ternyata anonim yang ada cuma sari roti dan kaki dan sari roti di tempat sampah.

Yang melakukan siapa ? Kalay ada orangnya bisa tekena ujaran kebencian. UUIT.

Jawabannya ada di blog satu ini, pembuatnya tanya dia, muslim dan alumni 212 tidak tahu menahu.

Link berita :
https://jakarta.coconuts.co/2016/12/08/how-sari-roti-became-most-hated-bread-brand-amongst-muslims-indonesia

https://m.facebook.com/pageKataKita/posts/1176169942474389

Blunder sari roti ?

Ada yg bilang, boikot sari roti menyusahkan pedagang yg notabene muslim juga.

Saya, yg baru tau kalau sati roti menerapkan sistem jual putus sama pedagangnya.boikot malah memberikan tawaran baru untuk membuka usaha lain.

Bukan satu atau dua orang, banyak yang tadinya jadi penjual konsinyasi, beralih jadi menjual barang pribadi.

Apalagi ini jual putus yg artinya tak mau tau mau terjual atau tidak, tidak.mau tahu. Malah saya lihat karena susah menjualnya suka di jual ke warungan asal keluar. Itu sebelum ada aksi boikot.
Di tambah ada aksi boikot, cobalah cari mitra baru yang sama sama menguntungkan.

Klaim sari roti kedua yg menyatakan produk sari roti buat menengah ke atas malah membuktikan, kalau sari roti ga butuh pengedar keliling.

Yang mau mandiri jualan bisa saya bantu speaker medley dan sistem kelistrikan portable buat malam hari.

Mari usaha mandiri.